Apapun Kepercayaan Anda, Asuransi nya Tetap Allianz

Membahas mengenai kepercayaan adalah pembahasan yang agak krusial. Kita sering melihat dan mendengar tindak kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia ini yang dilandasi oleh perbedaan kepercayaan/agama. Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas dan memperdebatkan tentang agama maupun kepercayaan yang dianut oleh setiap orang karena menurut saya itu adalah hal yang sangat personal dan tidak bisa dipaksakan.

Bukankah negara kita menganut pancasila dan UUD 1945 yang memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk menganut agama yang diyakininya? Sudah sepantasnya juga kan jika kita juga bersikap untuk saling menghargai dan memiliki toleransi antar umat beragama.

Tetapi ada salah satu artikel menarik yang pernah saya baca di http://www.kompasiana.com/danielht/life-of-pi-kisah-yang-membuat-orang-percaya-pada-tuhan_5519abcaa33311681ab65959 yang berkaitan dengan hal tersebut.

Artikel di bawah ini merupakan artikel yang saya kutip dari sumber tersebut

novel-life-of-piJika anda pernah membaca Novel Life of Pi karangan Yann Martel yang pernah juga ditayangkan di layar lebar pada tahun 2012, maka anda akan merasa tergelitik dengan salah satu bagian di dalam novel ini yang menceritakan tentang perdebatan kecil antara seorang Pastor, seorang Imam dan seorang Pandita yang disebabkan oleh ulah si tokoh utama yang mempelajari dan menganut 3 agama sekaligus. Apabila anda ingin tahu garis besar mengenai kisah Life of Pi ini, silahkan baca ringkasannya di sini.

* Ada bagian yang menarik lain di novel ini. Yakni bagian yang menceritakan pengalaman spritual masa kecil Pi Patel dalam menemukan Tuhan. Dia pergi dan belajar agama di Kuil (Hindu), Gereja (Kristen), dan Masjid (Islam).

Suatu ketika ketika Pi berjalan-jalan bersama kedua orangtua dan kakaknya, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan pastor, imam, dan pandita. Terjadilah percakapan menarik dan unik seperti yang saya kutip di bawah ini.

Percakapan yang membuat semua orang itu bingung (dari Life of Pi, halaman 108-112).

Dengan nada bangga pastor berkata: “Piscine anak Kristen yang baik. Mudah-mudahan dia mau segera bergabung dengan kelompok paduan suara kami.”

Kedua orangtuaku, sang pandita, dan sang imam tampak terkejut. “Anda pasti keliru. Dia anak Muslim yang saleh. Dia selalu datang untuk sholat Jumat, dan pengetahuannya tentang Qur’an semakin banyak.” Begitulah kata sang imam.

Kedua orangtuaku, sang pastor, dan sang pandita tampak terheran-heran. Sang pandita berkata, “Anda berdua keliru. Dia anak Hindu yang taat. Saya sering melihat dia datang ke kuil untuk darshan dan melakukan puja.”

Kedua orangtuaku, sang imam, dan sang pastor tampak tercengang.

“Saya tidak mungkin keliru,” kata sang pastor. “Saya kenal anak ini. Dia Piscine Miliror Patel, dia anak Kristen.”

“Saya juga kenal dia, dan saya sudah bilang dia itu Muslim,” sang imam menegaskan.

“Omong kosong!” seru si pandita, “Piscine lahir sebagai anak Hindu. Hidup sebagai anak Hindu, dan akan mati sebagai anak Hindu pula.”

… Mata mereka semua tertuju kepadaku. “Piscine, benarkah ini?” tanya sang iman penasaran. “Hindu dan Kristen memuja berhala. Tuhan mereka banyak.”

“Dan Muslim mempunyai banyak istri,” balas sang pandita.

Pastor menatap kedua orang bijak lainnya dengan tak senang. “Piscine,” dia nyaris berbisik, “keselamatan hanya ada dalam Yesus.”

“Omong kosong! Orang Kristen tidak tahu apa-apa tentang agama,” kata sang pandita.

“Mereka menyimpang dari jalan Tuhan lama berselang,” kata sang imam.

“Di manakah Tuhan dalam agamamu?” bentak sang pastor. “Tidak ada satu pun keajaiban Tuhan di dalamnya. Agama macam apa itu, tanpa keajaiban sama sekali?”

“Agama kami bukanlah sirkus yang mempertontonkan orang-orang mati melompat keluar dari dalam kubur mereka!

Kami, orang-orang Muslim, berpegang pada keajaiban yang paling dasar, yakni eksistensi itu sendiri. Burung-burung yang beterbangan, hujan yang turun, hasil-hasil pertanian – semua itu sudah cukup merupakan keajaiban bagi kami.”

“Burung dan hujan boleh saja, tapi kami lebih suka yakin bahwa Tuhan benar-benar ada bersama kami.”

“Begitukah? Wah, percuma saja Tuhan ada bersama kalian – kalian mencoba membunuh-Nya! Kalian memaku-Nya di salib dengan paku-paku besar.

Pantaskah memperlakukan nabi secara demikian? Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Allah pada kami tanpa banyak omong kosong yang tidak pada tempatnya, dan meninggal dalam usia lanjut.”

“Wahyu Allah? Pada saudagar buta huruf di tengah padang pasir? Itu bukan wahyu dari Allah, itu omongan orang sakit yang duduk terguncang-guncang di atas untanya.”

“Kalau Nabi–SAW—masih hidup, beliau pasti menegurmu dengan keras,” sang iman menyahut dengan mata disipitkan.

“Tapi dia sudah mati! Kristus hidup, sementara SAW-mu sudah mati, mati, mati!”

Sang pandita menyela pelan dalam bahasa Tamil dia berkata, “Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa Piscine membuang-buang waktu dengan agama-agama asing ini?”

Seketika sang pastor dan sang iman sama-sama melotot mendengarnya. Mereka berdua sama-sama orang Tamil.

“Tuhan itu universal,” kata sang pastor. Sang imam mengangguk-angguk setuju.

“Hanya ada satu Allah.”

“Dan dengan Allah mereka yang satu itu, Muslim selalu menimbulkan masalah dan memicu keributan.

Bukti, betapa buruknya Islam bisa dilihat dari perilaku kaum Muslim,” kata sang pandita.

“Kau sendiri pendukung perbudakan yang menganut sistem kasta,” kata sang imam, “Orang-orang Hindu memperbudak manusia dan memuja boneka-boneka yang didandani.”

“Mereka pemuja lembu emas. Mereka menyembah sapi-sapi,” sang pastor ikut-ikutan.

“Orang-orang Kristen menyembah orang kulit putih! Merekalah pemuja dewa asing. Merekalah yang merupakan mimpi buruk bagi orang-orang non kulit putih.”

“Mereka makan babi, mereka kanibal,” sang imam menambahkan.

Dengan kemarahan tertahan sang pastor berkata, “Sekarang masalahnya apakah Piscine menginginkan agama sejati—atau sekadar mitos-mitos dari komik kartun.”

“Allah—atau patung-patung,” kata sang imam dengan sungguh-sungguh.

“Dewa-dewa kita sendiri—atau dewa-dewa asing,” desis sang pandita. Sulit dikatakan, siapa yang wajahnya lebih merah membara.

Mereka bertiga seperti akan meledak. Ayah mengangkat kedua tangannya, “Saudara-saudara, saudara-saudara, sudahlah! Dia menengahi. “Saya ingin mengingatkan pada Anda sekalian bahwa negeri ini menganut kebebasan beragama.”

Tiga wajah marah menoleh ke arahnya. “Ya!” Beragama—satu agama!” ketiga orang bijak itu berseru serentak. Tiga jari telunjuk terangkat bersamaan, seperti tanda seru, untuk memberi tekanan pada ucapan mereka. …

* Dalam kisah selanjutnya, Pi Patel memutuskan: Bukan satu agama saja yang dia dianut. Tetapi ketiga-tiganya sekaligus yaitu menjadi Hindu, dibaptis di gereja, dan mengucapkan kalimat syahadat dan masuk Islam.

Ketika berada di dalam perjuangan hidup-matinya di Samudera Pasifik selama lebih dari 7 bulan, atau 227 hari itu, Pi berdoa, berseru, memanggil Tuhan, agar  Tuhan mau menyentuhnya, menolongnya, dengan menggunakan cara-cara dari tiga agama itu secara bergantian. Dan, dia kemudian benar-benar merasakan sentuhan Tuhan itu. ***

Demikian artikel yang saya kutip itu. Itu jika kita berbicara mengenai agama dan kepercayaan. Agama boleh banyak namun Tuhan itu satu. Berbeda halnya apabila kita berbicara tentang asuransi.

Saat memilih asuransi, pastinya kita ingin memilih asuransi yang dapat memberikan manfaat yang terbaik dan maksimal namun dengan premi yang terjangkau bukan? Apapun suku mu, apapun ras mu, apapun agama mu, apapun kepercayaan mu, apapun jabatanmu, apapun jenis kelaminmu, apapun status sosialmu, kamu semua butuh yang namanya asuransi.

alasan beli asuransiJika berbicara tentang asuransi jiwa maupun penyakit kritis, berarti kita berbicara tentang sebuah produk asuransi yang mampu memberikan perlindungan jangka panjang kepada orang orang yang ditanggungnya, kalau bisa pun seumur hidup. Nah, pastinya jika ingin cari asuransi yang bisa menanggung selama itu, kita perlu jeli untuk memilih perusahaan asuransi yang juga telah memiliki track record yang panjang selama ini. Bukan yang masih seumur jagung dan tidak berpengalaman di industri ini. Ujung ujungnya anda sebagai nasabah yang akan dirugikan nantinya.

Jika karena takut salah memilih asuransi yang salah yang menyebabkan pada akhirnya anda menjadi memilih untuk tidak berasuransi sama sekali, itu namanya gila. Anda sama saja dengan merisikokan hidup dan masa depan anda dan keluarga. Jika anda hanya bertanggung jawab atas hidup anda pribadi, itu adalah urusan anda.

Tetapi jika anda telah berkeluarga, anda tidak hanya bertanggung jawab atas hidup anda saja tetapi juga atas hidup istri dan anak anak anda. Jika anda masih lajang, bukan berarti anda tidak memiliki tanggung jawab sama sekali terhadap orang lain. Tentunya anda tetap memiliki tanggung jawab yaitu tanggung jawab untuk menjaga orang tua anda yang sudah berusia lanjut. Apalagi jika selama ini anda yang mencukupi dan menghidupi mereka.

Allianz-CI100Didirikan sejak tahun 1890 di Jerman, Allianz merupakan pelopor industri asuransi. Jadi tidak salah apabila anda mempercayakan kebutuhan proteksi atas diri anda dan keluarga kepada Asuransi Allianz. Hanya produk Tapro dari Allianz yang dapat memberikan perlindungan penyakit kritis seumur hidup (sampai dengan usia 100) kepada anda.

Perusahaan Asuransi boleh banyak tapi yang terbaik hanya Asuransi Allianz. Jadi pastikan anda tidak salah pilih dan menyesal di kemudian hari ya.

Nikmati Ongkos Kirim GRATIS apabila anda memesan Asuransi Allianz melalui kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta.

Beli-asuransi-allianz-Sekarang

Telepon/SMS/WA : 08119292466 

Pin BB : 5D7EC96D 

Email : info@asuransi-jiwa.org

Leave A Comment...