Beli Asuransi Jiwa untuk Upacara Ngaben di Bali

“Upacara ngaben” merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia, bila anda mendengar kata Ngaben maka anda pasti teringat sebuah pulau nan indah, pulau para Dewata, Bali. lalu apa hubungannya upacara ngaben dan asuransi jiwa?

Ternyata Bali merupakan salah satu kota di Indonesia dengan penduduk yang paling melek asuransi jiwa. Awalnya saya “mengira” bahwa hal ini disebabkan oleh banyaknya turis asing yang membawa pengetahuan asuransi bagi mereka, namun ternyata perkiraan saya tidak sepenuhnya benar, tetapi ternyata ini memiliki keterkaitan erat dengan upacara ngaben?

Tahukah anda berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan upacara ngaben? Konon upacara ngaben memerlukan biaya hingga ratusan juta rupiah. Dan ini memang benar, bukan isapan jempol belaka. Jika kebetulan anda punya kenalan orang Bali, anda boleh mengkonfirmasi akan kebenaran informasi ini.

Saya kaget mendengar penuturan salah seorang kenalan saya di Bali. Dia baru saja menghabiskan dana Rp 250 juta untuk melaksanakan ritual Ngaben (pembakaran mayat) ibunya yang meninggal beberapa waku lalu. Angka yang cukup fantastic untuk sebuah ritual Hindu di Buleleng. Namun menurut beliau, uang itu belum seberapa bila dibandingkan dengan biaya yang dkeluarkan oleh Raja Buleleng bila mengadakan upacara Ngaben, yang angkanya  konon mencapai Rp 1 miliar.

Tetapi meski Raja Buleleng mengeluarkan biaya yang cukup besar, tapi dia masih untung. Sebab sesuai cerita kenalan saya itu, upacara Ngaben Raja Buleleng bisa dijual copy rightnya ke stasiun tv luar negeri seperti National Geography dengan bandrol harga mencapai Rp 7 miliar untuk hak siarnya. Nilai yang fantastis bukan?

Bagaimana dengan warga Bali yang tidak mempunyai dana sebanyak itu? Di Bali juga ada Ngaben Massal yang dilakukan secara khusus kepada mereka yang ahli warisnya tidak mempunyai dana. Biasanya mayat anggota keluarga mereka sudah dikuburkan tanpa upacara, sehingga ketika ikut Ngaben hanya simbolik seperti gambar atau fotonya. Atau bisa jadi diikutkan kepada saudara yang mampu yang akan melakukan tradisi Ngaben dan si anggota keluarga itu tinggal membayar biaya semampunya saja.

Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat Bali sering melakukan pengabenan secara massal. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, konon menurut kepercayaan mereka, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.

Cara lainnya ya dengan membeli asuransi jiwa. Tidak heran asuransi jiwa sangat familiar di Bali dan rata rata masyarakat Bali sangat melek dan paham betul manfaat dari Asuransi Jiwa. Karena biaya upacara Ngaben yang lumayan tinggi, maka mereka membeli asuransi jiwa agar saat si tertanggung meninggal dunia, maka anggota keluarganya dapat menggunakan uang pertanggungan yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi untuk membiayai upacara Ngaben bagi yang meninggal tersebut. Dengan memiliki asuransi jiwa, selain tidak membebani keuangan anggota keluarga yang ditinggalkan, si nasabah asuransi tersebut juga sudah mempersiapkan secara matang prosesi upacara Ngaben bagi diri nya sendiri kelak apabila dia meninggal dunia nantinya.

Makna Upacara Ngaben di Bali

Ngaben merupakan salah satu upacara besar di Bali. Salah satu rangkaian upacara Pitra Yadnya ini merupakan upacara untuk orang yang sudah meninggal. Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama, sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya, dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Ngaben sendiri adalah peleburan dari ajaran Agama Hindu dengan adat kebudayaan di Bali.

Di setiap daerah di Bali adalah hal yang lazim jika urutan acara dalam tata cara pelaksanaan Ngaben akan berbeda walaupun esensi upacara tersebut sama. Ini berkaitan dengan kepercayaan adat Bali yang mengenal adanya Desa Kala Patra yang secara harfiah di terjmahkan menjadi tempat, waktu dan keadaan.

Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya.

Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Upacara Ngaben biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal, karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Mereka beranggapan bahwa, memang jenasah untuk sementara waktu tidak ada, tetapi akan menjalani reinkarnasi atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).

Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya, menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi, dan ini sangat tergantung dari karmaphala selama masih hidup.

Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, maka hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya baru akan dilakukan ritual Ngaben, secara bersama-sama dalam satu kampung.

 Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik. Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan, secara beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah.

Sesampainya di kuburan, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat ke pemalungan yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang telah disiapkan, yang sebelumnya diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian pemalungan itu dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci.

Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin.

Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.

Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia, berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.

Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali.

Membeli Asuransi Jiwa Allianz untuk Membiayai Upacara Ngaben

Karena besarnya biaya untuk mengadakan upacara Ngaben inilah maka hal ini yang mendorong banyak orang Bali yang mengambil asuransi jiwa untuk menjalankan tradisi ini. Jadi banyak anak anak di Bali yang membeli asuransi jiwa bagi orang tua nya selagi orang tua nya masih hidup.

Atau mereka juga bahkan membeli asuransi jiwa bagi diri mereka sendiri untuk persiapan apabila suatu saat mereka meninggal kelak, setidaknya tidak membebani anggota keluarga nya untuk mengeluarkan biaya yang besar untuk melakukan upacara Ngaben. Anggota keluarga yang ditinggalkan bisa memanfaatkan uang Pertanggungan dari asuransi jiwa untuk membiayai proses upacara Ngaben tersebut.

Dengan asuransi jiwa mereka mempersiapkan dana untuk upacara ngaben selagi mereka mampu dan masih hidup. Bahkan tidak jarang juga mereka membelikan asuransi jiwa bagi sanak saudaranya yang kurang mampu sehingga apabila kelak sanak saudaranya meninggal dunia, mereka dapat memanfaatkan uang pertanggungan asuransi jiwa nya untuk membiayai upacara Ngaben tersebut.

Karena Upacara ngaben dianggap sangat penting, maka perayaan ini harus ramai dan semarak apalagi konon katanya hari baik untuk melakukan ngaben adalah tidak lebih dari 7 (tujuh) hari sejak seseorang meninggal dunia.

Upacara ngaben merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang harus kita lestarikan. Jadi apapun alasan yang melatar belakangi mereka untuk mengambil asuransi jiwa tentu sah sah saja, selama tidak melanggar prinsip prinsip dasar dari asuransi jiwa itu sendiri.

Nikmati Ongkos Kirim GRATIS apabila anda memesan Asuransi Allianz melalui kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta.

Beli-asuransi-allianz-Sekarang

Telepon/SMS/WA : 08119292466 

Pin BB : 5D7EC96D 

Email : info@asuransi-jiwa.org

Leave A Comment...