Gaya Hidup yang Salah dapat Memicu Serangan Jantung

Gaya hidup yang salah dapat memicu serangan jantung. Hidup di zaman sekarang, sangat sulit sekali untuk memiliki gaya hidup yang sehat. Apalagi jika anda tinggal dan berada di kota besar seperti Jakarta yang hampir semua nya ada mulai dari makanan, hiburan, dan lain lain. Olahraga yang rutin saja tidak cukup jika setiap hari nya yang anda hadapi adalah godaan untuk mengikuti gaya hidup yang tidak sehat.

Tidak hanya masyarakat awam, bahkan banyak selebritis Indonesia berbakat yang akhirnya harus meninggal di usia muda karena terkena serangan jantung, mulai dari Mike Mohede yang baru baru ini meninggal secara tiba tiba saat tidur siang, Irena Justine yang tiba tiba ambruk saat syuting. Demikian juga dengan artis artis lain seperti Adjie Massaid, Ricky Jo, Basuki, Yani Libels yang telah lebih dahulu pergi selama lama nya yang diakibatkan oleh Serangan Jantung.

Jadi Serangan jantung ini sama sekali tidak boleh dianggap remeh karena sampai sekarang heart attack ini masih dikenal sebagai pembunuh nomor 1 di dunia.

Penyakit kritis seperti serangan jantung tidak memandang bulu, mau kaya atau miskin, mau banyak harta atau banyak hutang, mau tampan atau jelek, mau gemuk atau kurus, mau tinggi atau pendek, mau pria atau wanita, mau profesional atau pengangguran, semuanya berpotensi untuk terkena penyakit jantung. Oleh karena itu, daripada setiap hari berpikir dan merenung tentang apakah suatu saat kita bisa terkena penyakit yang mematikan ini atau tidak, lebih baik persiapkan saja diri anda untuk kejadian yang terburuk (prepare for the worst) dengan membeli asuransi penyakit kritis Allianz.

Di Allianz, anda dapat menemukan asuransi penyakit kritis ci100 yang melindungi anda sampai usia anda mencapai 100 tahun. Tidak ada satu asuransi penyakit kritis satu pun yang berani memberikan perlindungan sampai usia anda mencapai 100 tahun seperti yang diberikan Allianz.

gaya hidup yang memicu serangan jantungBerikut ini adalah salah satu tulisan yang dikutip dari Koran Sindo mengenai pemicu serangan jantung yang paling utama.

Banyak orang terkejut begitu mendengar kabar Mike Mohede berpulang. Tapi itulah faktanya.

Juara Indonesian Idol 2 ini meninggal dalam usia muda, 32 tahun, dan di puncak produktivitasnya sebagai musisi karena serangan jantung. Peristiwa yang dialami Mike Mohede pun kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya penyakit jantung sekaligus menahbiskan serangan jantung sebagai silent killer.

Padahal penyanyi yang telah merilis 3 album ini tidak menunjukkan gejala menderita penyakit tersebut. Pemuda kelahiran Solo, 7 November 1983 ini juga sedang giat-giatnya berolahraga dan diet sehingga dia sukses menurunkan berat badannya sampai 35 kg.

Lantas apa penyebab serangan terjadi? Tidak dapat dimungkiri, faktor gaya hidup memiliki andil cukup besar dalam penyakit jantung koroner yang merupakan penyebab terjadinya serangan jantung. Dokter Dede Moeswir, SpPD, KKV, menuturkan, gaya hidup yang gemar mengonsumsi makanan berlemak, minim olahraga, stres, serta merokok berkontribusi terhadap penyakit jantung.

“Gaya hidup tidak sehat memicu pertumbuhan penyakit tidak menular, salah satunya penyakit jantung koroner,” kata ahli yang menangani kelainan pembuluh darah koroner itu di OMNI Hospital Pulomas, Jakarta, kemarin. Diabetes, tekanan darah tinggi, dan berat badan berlebih juga menjadi faktor yang turut mendorong terjadinya serangan jantung.

Silent killer tersebut sebenarnya bisa diantisipasi. Menurut Dede, antisipasi bisa dilakukan dengan deteksi dini, yakni dengan melakukan medical checkup (MCU) minimal setahun sekali. Dokter akan melakukan pemeriksaan, mengenali faktor risiko, pola makan, termasuk berbagai pemeriksaan laboratorium. Kemudian melakukan pemeriksaan EKG. “Jika benar ada kelainan jantung bisa dilanjutkan dengan treadmill test.

Atau bisa juga melakukan pemeriksaan CT scan jantung,” jelasnya. Namun gold standard untuk mendiagnosis aterosklerosis (penyempitan/pengerasan pembuluh darah) adalah angiografi koroner, yakni pemeriksaan x-ray pembuluh darah yang menyuplai jantung. Menurut Dede, pemeriksaan ini termasuk pemeriksaan minimal invasif.

Hal ini dilakukan dengan memasukkan selang kecil atau kateter melalui pembuluh darah di daerah inguinal (selangkangan) yang merupakan pintu masuk dan menghantarkan selang tersebut sampai ke pembuluh darah koroner di jantung. “Mencegah memang lebih baik ketimbang mengobati, sayang perhatian masyarakat terhadap hal ini masih amat rendah. Bisa terlihat dari kegiatan MCU yang masih teramat minim di masyarakat.

Seharusnya pemerintah juga memberikan layanan MCU kepada pemegang BPJS guna mencegah berbagai penyakit mematikan,” jelasnya. Ahli penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Ari F Syam, SpPD-KGEH juga menandaskan pentingnya cek kesehatan secara rutin guna mendeteksi kelainan yang ada di tubuh.

“Kita dikagetkan akan berita meninggalnya artis muda dan terkenal Mike Mohede yang meninggal akibat penyakit jantung. Kematian Mike menunjukkan betapa pentingnya cek kesehatan,” ujar Ari. Dia menuturkan, pemeriksaan kesehatan adalah suatu upaya kita untuk mendeteksi adanya kelainan yang terjadi pada tubuh orang walaupun belum timbul gejala. Menurut Ari, ada beberapa keadaan sakit yang memang hanya dapat diketahui kalau melakukan pemeriksaan kesehatan semisal pemeriksaan laboratorium.

Penyakit-penyakit yang bisa dideteksi dengan pemeriksaan kesehatan antara lain penyakit kencing manis (DM), kadar kolesterol dan trigliserida, kadar asam urat, hipertensi, dan gangguan jantung. Selain itu pemeriksaan skrining awal akan adanya kemungkinan kanker dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium, foto dada serta USG abdomen.

“Oleh karena itu, bagi mereka yang berumur di atas 40 tahun dan tidak pernah memeriksakan kesehatan, apalagi dengan berbagai faktor risiko, dianjurkan untuk segera melakukan cek kesehatan rutin,” sebutnya. Lebih jauh dia menjelaskan, jika seseorang mengalami obesitas, indeks masa tubuh lebih dari 30 kg/m2, sebenarnya orang tersebut berisiko dengan berbagai penyakit. Apalagi jika mempunyai kadar kolesterol tinggi, hipertensi, dan mempunyai kebiasaan merokok serta minum alkohol.

“Tidak ada proses penyakit yang terjadi tiba-tiba, tetapi manifestasi klinisnya bisa tibatiba. Cuma masalahnya gangguan kesehatan harus diidentifikasi dengan pemeriksaan. Cek kesehatan merupakan hal penting yang harus rutin dilakukan sehingga kita tidak akan terkejut bila ada kematian mendadak yang terjadi di sekitar kita,” ujar dia.

Ancaman Meningkat

Dalam beberapa dekade terakhir, kematian yang disebabkan penyakit jantung kian meningkat, khususnya pada negara berkembang. WHO menyatakan, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), terutama penyakit jantung koroner, masih menduduki peringkat teratas di negara berkembang hingga 2020.

Sementara Survei Kesehatan Nasional menunjukkan, 3 dari 1.000 atau 4% penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner. Sebagian besar penderita penyakit jantung koroner sudah terlambat datang ke dokter. Bahkan penderita penyakit jantung koroner yang akan menjalani operasi bypass jantung koroner tidak mengetahui bahwa mereka menderita penyakit jantung koroner dan mengalami serangan jantung sebelumnya.

Beberapa faktor risiko yang disebutkan di atas dapat mempercepat terjadinya penyakit ini, termasuk adanya infeksi dan gangguan pada darah. Masalahnya, tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terkena penyakit jantung karena mereka tidak pernah mengalami gejala nyeri dada yang menjadi tanda awal serangan jantung.

Sekitar 30% orang tidak menyadari terkena serangan jantung. Tak jarang pula seseorang tak menyadari bahwa dirinya sudah terkena penyakit jantung karena tidak pernah mengalami gejala nyeri dada yang menjadi tanda awal serangan jantung. “Sekitar 30% orang tidak menyadari terkena serangan jantung dan melewatinya di rumah.

Karena sekarang orang sakit jantung tidak pernah mengalami gejala nyeri dada di awal,” ungkap Wakil Chairman Siloam Heart Institute (SHI) Dr Antono Sutandar, SpJP. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat pasien penyakit jantung setiap tahunnya mendominasi pelayanan kesehatan di rumah sakit setempat.

Meski belum dapat mempublikasikan angka pasien penyakit jantung secara pasti, Titi memastikan mayoritas pasien yang menderita penyakit tersebut berada pada kisaran usia 40 tahun ke atas. “Artinya, penyakit jantung ini banyak diderita masyarakat Kota Bekasi dengan rentang usia di atas 40 tahun,” katanya.

Sumber : http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=0&date=2016-08-02

Selain mulai menjalani dan menerapkan gaya hidup sehat, mulailah untuk sadar dan melek akan manfaat asuransi. Asuransi Allianz yang dilengkapi dengan manfaat penyakit kritis ci, ci+ maupun ci100 hadir dengan mengedepankan perlindungan yang komprehensif dan menyeluruh termasuk terhadap serangan jantung yang dapat menyerang secara tiba tiba.

Nikmati Ongkos Kirim GRATIS apabila anda memesan Asuransi Allianz melalui kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta.

Beli-asuransi-allianz-Sekarang

Telepon/SMS/WA : 08119292466 

Pin BB : 5D7EC96D 

Email : info@asuransi-jiwa.org

Leave A Comment...