Saya Tidak Butuh Asuransi Tapi Saya Mau Beli Asuransi

Saya tidak butuh asuransi tapi saya mau beli asuransi. Pernyataan ini sangat kontradiksi karena pada umumnya kita membeli produk saat kita membutuhkan manfaat dari produk tersebut. Namun kenapa kita malah membeli asuransi padahal kita tidak butuh? Yup itulah keunikan dari produk asuransi. Saat saya menawarkan asuransi ke orang lain, ada yang mengatakan bahwa mereka tidak butuh asuransi. Karena mereka tidak butuh, maka mereka harus membeli asuransi. Karena saat mereka butuh asuransi, mungkin saya tidak bisa menjual asuransi lagi kepada mereka.

Sedikit cerita. Banyak yang bertanya kepada saya tentang produk asuransi jiwa dan kesehatan yang saya jual. Lambat laun, sedikit banyak saya jadi paham maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Kadang ada yang memang tidak paham dan bertujuan benar benar membeli asuransi untuk antisipasi bila terjadi resiko di masa yang akan datang. Tapi tidak sedikit pula yang hendak mencari manfaat instan.  Seperti pertanyaan tentang Kondisi Kritis dan Pre-Existing Condition.

“Radar” saya kadang berjalan ketika ada yang bertanya detil, ingin manfaat besar dan seperti tergesa-gesa. Ketika komunikasi lebih lanjut, benar dugaan saya, bahwa si penanya atau orang tua/keluarga/famili-nya tersebut memiliki kondisi “tidak layak” untuk diasuransikan, atau dalam bahasa asuransinya tidak akan lolos dalam proses underwriting.

Cerita saya mungkin tidak mewakili gambaran umum di masyarakat. Tetapi statistik bisa berbicara lebih banyak. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2013 mencatat 17,84% atau hanya 18 orang dari 100 penduduk Indonesia yang mengerti manfaat asuransi. Tapi baru 11,81% atau 12 dari 100 orang membeli polis.  Sedikit saya menemukan, ketika masih muda masih bugar sehat walafiat, berpikir jauh tentang punya polis asuransi. Sebagian besar masyarakat, perlu ada faktor pemicu terlebih dahulu baru kemudian berpikir untuk memiliki asuransi. Faktor pemicu tersebut bisa datang dari pengalaman pribadi dan keluarganya atau bisa jadi pengalaman orang lain. Misal saat tetangga atau famili jatuh sakit dan terbantu karena asuransi, barulah tersadar untuk punya asuransi.  Ada juga yang setelah berkeluarga dan punya anak, baru kepikiran punya asuransi. Terakhir, saya menemukan seorang anak yang mencarikan produk askes untuk orang tuanya, dan kaget ketika sulit untuk bisa mendapatkan produk askesnya dikarenakan usia dan penyakit yang sudah diderita dan preminyajatuh mahal. Bagi yang bekerja, terkadang sangat mengandalkan proteksi asuransi dari instansi/perusahaan tempatnya bekerja, sehingga tidak terpikir untuk punya asuransi yang dibeli sendiri. Kagetnya di belakang, ketika sudah pensiun, baru mencari produk asuransi,

Asuransi itu produk yang unik. Umumnya kita membeli produk karena kita membutuhkan produk tersebut. Tapi asuransi dibeli ketika kita tidak butuh. Jika kita membeli produk asuransi saat butuh, perusahaan asuransi besar kemungkinan malah tidak akan mau menjualnya kepada kita.

Ya. Itu karena asuransi adalah produk yang dibeli untuk kebutuhan berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, di mana terjadinya risiko tersebut dapat terganggu kondisi keuangan kita. Dengan ikut asuransi, gangguan finansial dapat ditanggulangi. Semakin muda, semakin baik.

Risiko yang mungkin terjadi dan dapat mengganggu kondisi keuangan antara lain sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia. Khusus meninggal dunia, risiko keuangan diderita pihak yang ditinggalkan, utamanya jika yang meninggal dunia adalah sang pencari nafkah.

Nikmati Ongkos Kirim GRATIS apabila anda memesan Asuransi Allianz melalui kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta.

Beli-asuransi-allianz-Sekarang

Telepon/SMS/WA : 08119292466 

Pin BB : 5D7EC96D 

Email : info@asuransi-jiwa.org

Leave A Comment...